Senin, 04 Mei 2015

Yth. Bapak/Ibu Wali Murid

Berikut kami sampaikan daftar nilai peserta didik kelas III Semester II SDN 1 Sukomulyo Kecamatan Kaliwungu Selatan Kabupaten Kendal.

Download di sini ===> Nilai Peserta didik Kelas III semester II

Kamis, 17 April 2014

Assalamualaikum Wr. Wb.
Salam sejahtera untuk kita semua :)

Bertempat di ruang kelas V dan kelas VI SDN 1 Sukomulyo Kec. Kaliwungu Selatan Kab. Kendal, pada tanggal 14-16 April 2014 sejumlah 35 siswa kelas VI mengikuti latihan ujian yang ke-2 atau try out yang ke-2. Try out hari pertama pelajaran Bahasa Indonesia, hari kedua pelajaran matematika, dan hari ketiga pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Try out dilaksanakan dalam rangka persiapan Ujian Akhir Sekolah tahun akademik 2013/2014. Pelaksanaan try out ke-2 ini lancar dan tertib. Nantinya diharapkan seluruh siswa kelas VI dapat lulus dengan nilai yang bagus dan dapat melanjutkan ke sekolah favoritnya. Aamiin :D
Siswa Kelas VI SDN 1 Sukomulyo melaksanakan Try out Ujian Sekolah dengan tertib di hari ke-3

Jumat, 11 April 2014

Umumnya, ketkukan anak usia sekolah berkaitan dengan urusan dan teman. Utamanya ada empat, yaitu takut susah pelajarannya, takut pada guru, takut tidak naik kelas, dan takut tak punya teman.
TAKUT SUSAH PELAJARANNYA
Biasanya ditemui pada anak usia SD awal yang baru masuk. Di usia ini anak masih belajar berhitung, menulis, dan membaca. Jadi, ada ketakutan anak disuruh membaca sementara ia belum lancar, atau disuruh berhitung, bercerita, misalnya anak merasa takut jika pelajaran tersebut susah sehingga ia tidak bisa mengikutinya.
Untuk mengatasi rasa takutnya, orangtua perlu meberikan dorongan dan motivasi pada anak bahwa dirinya pintar dan mampu untuk bisa membaca, berhitung, dan menulis, sehingga anak mempunyai rasa percaya diri yang baik. Dorong pula anak untuk berani bertanya di kelas bila memang ada yang belum dia mengerti tentang pelajaran yang diajarkan. Orangtua pun di rumah membekali anak untuk siap menghadapi pelajaran di sekolah, caranya dengan menemani anak ketika waktunya belajar dan membahas bersama pelajaran yang diterima anak di sekolah.
TAKUT GURU
Ketakutan anak usia sekolah pada guru bisa beragam penyebabnya; bisa karena takut gurunya galak, takut dimarahi, takut disuruh membaca/menulis/berhitung, dan sebagainya. Sebetulnya ketakutan anak ini lebih pada pribadi gurunya. Bisa saja gurunya berwajah tidak ramah pada anak atau cara mengajarnya tidak menyengangkan atau kurang menarik.
Tentunya mengatasi rasa takut anak ini harus bekerja sama pula dengan si guru itu sendiri. Guru harus melakukan pendekatan yang lebih baik pada anak-anak, misalnya ketika masuk kelas selalu menyapa dan tersenyum pada  anak didiknya, menampakkan wajah yang ramah, senang, gembira, dan menyenangkan. Dengan begitu, para anak didiknya memiliki citra positif terhadap sang guru.
Pahami ketakutan anak pada guru. Dengarkan cerita anak tentang guru di sekolahnya. Beritahukan pula pada anak mengenai sikap-sikap gurunya yang mungkin sebetulnya tidak galak/marah. Misal, "Ibu Erni sebetulnya sangat baik orangnya. Wajahnya saja yang memang jarang tersenyum. Coba deh kalau kamu sapa, beliau pasti akan senyum dan akan ramah menjawabnya. Jadi kamu tidak perlu takut dengan Bu Erni". Orangtua juga bisa menggali apa harapan anak mengenai gurunya. Jadikan hal ini sebagai masukan bagi guru. Untuk itu perlu komunikasi yang terjalin baik antara orangtua di rumah dan guru di sekolah.
TAKUT TIDAK NAIK KELAS
Anak takut tidak naik kelas umumya karena sering ditakut-takuti dan diceritakan hal-hal tak menyenangkan. Misal, "Kalau kamu malas belajar, nanti tidak naik kelas. Teman-temanmu akan mengejekmu dan menjauhimu, lo". Hal tersebut memunculkan rasa takut dengan sendirinya. Biasanya rasa takut ini dialami anak yang sudah agak besar, seperti kelas 3 ke atas. Di usia ini anak sudah dihadapkan pada belajar dalam arti yang sesungguhnya, dimana ada banyak tugas yang harus dikerjakan, ada ulangan-ulangan, dan sebagainya.
Orangtua hendaknya memahami ketakutan anak ini, tidak malah menambah ketakutannya dengan pernyataan-pernyataan yang mengancam, seperti, "Kalau kamu tidak rajin belajar, nanti enggak naik kelas". Sebaliknya, beri anak motivasi untuk mau belajar. Lakukan dengan cara-cara yang kreatif dan menyenangknan. Jika anak belajra dengan baik tentu tidak perlu merasa takut untuk tidak naik kelas.
TAKUT TAK PUNYA TEMAN
Ketakutan tak punya teman disebabkan anak masuk dalam sebuah lingkungan bari sehingga menimbulkan kecemasan atau hilangnya rasa aman pada anak-anak. Rasa takut ini sangat wajar karena setiap watak dan karakter seseorang berbeda-beda dari setiap anak. Bisa saja anak memiliki teman yang agresif, begitu dia di sekolah dipukuli atau diancam dengan hal-hal tertentu. Atau, justru sebaliknya anak mendapatkan teman yang rajin dan baik sehingga ia memiliki rasa nyaman, menumbuhkan motivasi, dan rasa senang ketika berada di sekolahnya.
Apa yang harus dilakukan orangtua? Memberikan masukan positif bahwa teman adalah seseorang yang baik yang akan mendampinginya pada waktu sedih, senang, atau dalam kondisi apapun. Tentunya penjelasan ini membutuhkan pengulangan agar anak dapat menangkap hal yang sama dengan apa yang disampaikan orangtuanya, sehingga pikiran dia tentang takut memiliki teman akan hilang dengan sendirinya.

Sumber:
NN. 2013. "Dari Guru Sampai Tidak Naik Kelas". Tabloid Nakita. 6 Oktober 2013.

Perkembangan Anak Sekolah Dasar 

Perkembangan anak SD berbeda dengan balita. Anak sekolah dasar merasa sudah besar dan mandiri. Berikut perkembangan anak kelas 4, 5, dan 6 SD: 






 
 Perkembangan anak Kelas 4 SD:
  • Pada tahap ini anak kelas 4 SD mulai kehilangan kepercayaan diri dan menjadi kurang ekspresif.
  • Jangan terlalu sering memberikan kritik atau mengkritik teman-teman anak kelas 4 SD. Karena saat ini, anak kelas 4 SD lebih banyak berorientasi pada teman sebaya. Saat ini yang diinginkan anak kelas 4 SD adalah penghargaan dari teman-teman dalam kelompok. Karena itu, jika ada teman yang dihukum, anak kelas 4 SD sekuat mungkin membela karena kekompakan baginya penting. Sekalipun dirinya belum sepenuhnya memahami mengapa temannya dihukum. Sebab itu anak kelas 4 SD perlu banyak bimbingan dalam hal ini, karena mungkin saja anak malah membela teman yang bersalah.
  • Anak kelas 4 SD Mulai ingin lebih mandiri dari orangtua, dari guru, dan orang dewasa yang lain.
  • Mulai memahami perasaan sendiri, anak kelas 4 SD juga dan lebih memahami mengapa orang lain melakukan apa yang menurut dia baik untuk dilakukan.
  • Dalam hal sosialisasi, anak kelas 4 SD mulai lancar berkomunikasi termasuk mempengaruhi orang lain.
  • Minat anak kelas 4 SD semakin luas dan sudah mampu berpikir kritis dan analisis.
  • Anak kelas 4 SD mulai tertarik dengan hal yang terjadi di dunia luar.
  • Emosi anak kelas 4 SD naik turun, dan lebih bervariasi. Anak kelas 4 SD perlu waktu untuk memahami emosinya dan mendiskusikannya pada orangtua setiap pertemuan. Pada masa ini, sangat penting pendampingan dari orangtua dengan cara memberikan nasehat, bukan dengan menggurui.

Perkembangan anak Kelas 5 SD
  • Saat ini anak kelas 5 SD mulai memasuki masa pra remaja. Anak segera tahu akan ada perubahan yang dirasakan, termasuk hadirnya masa akil baliq.
  • Anak kelas 5 SD mulai tertarik dengan lawan jenis, dan lebih siap mengatasai tugas sekolah yang semakin banyak dan berat.
  • Walaupun secara fisik sudah terlihat besar, tapi tetap ada bagian dari diri anak kelas 5 SD yang seperti anak kecil, misalnya menangis ketika mengerjakan soal matematika yang sulit, senang dipeluk dan dimanja orangtua.
  • Sebagian ciri-ciri remaja sudah mulai terlihat pada anak kelas 5 SD seperti mudah bosan, suka melawan orangtua, tapi sebenarnya mereka membutuhkan orangtua, dan agak terobsesi dengan teman sebaya. Karena itu sering membandingkan hal yang dilakukan orangtua dengan hal yang dilakukan teman.
  • Anak kelas 5 SD Sudah tidak terlalu percaya dengan guru dan menganggap guru membosankan, serta tidak adil dalam memperlakukan siswa-siswanya di sekolah.
  • Anak yang duduk di kelas 5 sekolah dasar  Lebih berani mempertanyakan hal yang diminta orang dewasa dan mengungkapkan pendapat sendiri. Hal ini terjadi karena ada partisipasi pengaruh hormon.
  • Terjadi perubahan bentuk tubuh dan menjadi sensitif terjadi pada anak kelas 5 SD karena perubahan tesebut. Saat ini ingat, hindari memberikan kritik yang berlebihan tentang perubahan tubuh anak.

Perkembangan anak Kelas 6 SD:
  • Kondisi anak kelas 6 SD tidak jauh berbeda dari kelas sebelumnya, namun perubahan bentuk tubuh dan emosi biasanya akan lebih jelas terlihat, termasuk mudahnya emosi naik turun dan ketertarikan pada lawan jenis.

Tips untuk orangtua untuk menangani anak sekolah dasar:
  • Butuh kesabaran lebih dan lebih banyak mendengarkan anak sekolah dasar. Ajukan pertanyaan yang dapat membuat anak sekolah dasar  berpikir tentang keputusannya, bukan langsung memberikan solusi.
  • Orangtua harus bisa mengatur emosi, supaya tidak marah terus kepada anak SD. Ini harus dicamkan betul, apalagi diusia ini, yang mana sikap, ucapnnya, seringkali membuat orangtua jengkel.
  • Tetap membuka jalur komunikasi dan lebih berperan sebagai pendengar yang aktif untuk anak. Jika dia harus diberikan masukan, tunggu waktu yang tepat untuk memberikan nasehat.
  • Di jenjang sekolah dasar, anak membutuhkan sosok yang dapat diajak bercerita dan membantu menyelesaikan masalah, bukan yang mengatur hidupnya.
  • Sikap tegas dari orangtua tetap diperlukan, tapi tetap kita harus bisa luwes.
Demikian perkembangan anak kelas 4, 5, dan 6 SD.

Sumber:
Kusumaningrum, Ristriarie. "Perkembangan Anak Sekolah Dasar". 12 April 2014.  http://www.tabloid-nakita.com/read/2257/perkembangan-anak-sekolah-dasar-


Jumat, 04 April 2014

Kalender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran peserta didik selama satu tahun pelajaran. Kalender pendidikan mencakup permulaan tahun ajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif dan hari libur.

Setiap permulaan awal tahun pelajaran, sekolah / taman kanak – kanak menyusun kalender pendidikan untuk mengatur waktu kegiatan pembelajaran selama satu tahun ajaran, mencakup permulaan tahun pelajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif dan hari libur.

Pengaturan waku belajar di taman kanak – kanak mengacu kepada standar isi dan disesuaikan dengan kebutuhan daerah, karakteristik sekolah / taman kanak – kanak, kebutuhan peserta didik dan masyarakat, serta ketentuan dari pemerintah atau pemerintah daerah.

Berikut adalah buku Pedoman Penyusunan Kalender Pendidikan Provinsi Jawa Tengah Tahun Pelajaran 2013/2014 dan Kalender Pendidikan Provinsi Jawa Tengah Tahun Pelajaran 2013/2014 yang bisa anda download


buku Pedoman Penyusunan Kalender Pendidikan Provinsi Jawa Tengah Tahun Pelajaran 2013/2014 download DI SINI

Kalender Pendidikan Prov. Jateng Tahun 2013/2014

Kalender Pendidikan Provinsi Jawa Tengah Tahun Pelajaran 2013/2014 download DI SINI