Jumat, 11 April 2014

Umumnya, ketkukan anak usia sekolah berkaitan dengan urusan dan teman. Utamanya ada empat, yaitu takut susah pelajarannya, takut pada guru, takut tidak naik kelas, dan takut tak punya teman.
TAKUT SUSAH PELAJARANNYA
Biasanya ditemui pada anak usia SD awal yang baru masuk. Di usia ini anak masih belajar berhitung, menulis, dan membaca. Jadi, ada ketakutan anak disuruh membaca sementara ia belum lancar, atau disuruh berhitung, bercerita, misalnya anak merasa takut jika pelajaran tersebut susah sehingga ia tidak bisa mengikutinya.
Untuk mengatasi rasa takutnya, orangtua perlu meberikan dorongan dan motivasi pada anak bahwa dirinya pintar dan mampu untuk bisa membaca, berhitung, dan menulis, sehingga anak mempunyai rasa percaya diri yang baik. Dorong pula anak untuk berani bertanya di kelas bila memang ada yang belum dia mengerti tentang pelajaran yang diajarkan. Orangtua pun di rumah membekali anak untuk siap menghadapi pelajaran di sekolah, caranya dengan menemani anak ketika waktunya belajar dan membahas bersama pelajaran yang diterima anak di sekolah.
TAKUT GURU
Ketakutan anak usia sekolah pada guru bisa beragam penyebabnya; bisa karena takut gurunya galak, takut dimarahi, takut disuruh membaca/menulis/berhitung, dan sebagainya. Sebetulnya ketakutan anak ini lebih pada pribadi gurunya. Bisa saja gurunya berwajah tidak ramah pada anak atau cara mengajarnya tidak menyengangkan atau kurang menarik.
Tentunya mengatasi rasa takut anak ini harus bekerja sama pula dengan si guru itu sendiri. Guru harus melakukan pendekatan yang lebih baik pada anak-anak, misalnya ketika masuk kelas selalu menyapa dan tersenyum pada  anak didiknya, menampakkan wajah yang ramah, senang, gembira, dan menyenangkan. Dengan begitu, para anak didiknya memiliki citra positif terhadap sang guru.
Pahami ketakutan anak pada guru. Dengarkan cerita anak tentang guru di sekolahnya. Beritahukan pula pada anak mengenai sikap-sikap gurunya yang mungkin sebetulnya tidak galak/marah. Misal, "Ibu Erni sebetulnya sangat baik orangnya. Wajahnya saja yang memang jarang tersenyum. Coba deh kalau kamu sapa, beliau pasti akan senyum dan akan ramah menjawabnya. Jadi kamu tidak perlu takut dengan Bu Erni". Orangtua juga bisa menggali apa harapan anak mengenai gurunya. Jadikan hal ini sebagai masukan bagi guru. Untuk itu perlu komunikasi yang terjalin baik antara orangtua di rumah dan guru di sekolah.
TAKUT TIDAK NAIK KELAS
Anak takut tidak naik kelas umumya karena sering ditakut-takuti dan diceritakan hal-hal tak menyenangkan. Misal, "Kalau kamu malas belajar, nanti tidak naik kelas. Teman-temanmu akan mengejekmu dan menjauhimu, lo". Hal tersebut memunculkan rasa takut dengan sendirinya. Biasanya rasa takut ini dialami anak yang sudah agak besar, seperti kelas 3 ke atas. Di usia ini anak sudah dihadapkan pada belajar dalam arti yang sesungguhnya, dimana ada banyak tugas yang harus dikerjakan, ada ulangan-ulangan, dan sebagainya.
Orangtua hendaknya memahami ketakutan anak ini, tidak malah menambah ketakutannya dengan pernyataan-pernyataan yang mengancam, seperti, "Kalau kamu tidak rajin belajar, nanti enggak naik kelas". Sebaliknya, beri anak motivasi untuk mau belajar. Lakukan dengan cara-cara yang kreatif dan menyenangknan. Jika anak belajra dengan baik tentu tidak perlu merasa takut untuk tidak naik kelas.
TAKUT TAK PUNYA TEMAN
Ketakutan tak punya teman disebabkan anak masuk dalam sebuah lingkungan bari sehingga menimbulkan kecemasan atau hilangnya rasa aman pada anak-anak. Rasa takut ini sangat wajar karena setiap watak dan karakter seseorang berbeda-beda dari setiap anak. Bisa saja anak memiliki teman yang agresif, begitu dia di sekolah dipukuli atau diancam dengan hal-hal tertentu. Atau, justru sebaliknya anak mendapatkan teman yang rajin dan baik sehingga ia memiliki rasa nyaman, menumbuhkan motivasi, dan rasa senang ketika berada di sekolahnya.
Apa yang harus dilakukan orangtua? Memberikan masukan positif bahwa teman adalah seseorang yang baik yang akan mendampinginya pada waktu sedih, senang, atau dalam kondisi apapun. Tentunya penjelasan ini membutuhkan pengulangan agar anak dapat menangkap hal yang sama dengan apa yang disampaikan orangtuanya, sehingga pikiran dia tentang takut memiliki teman akan hilang dengan sendirinya.

Sumber:
NN. 2013. "Dari Guru Sampai Tidak Naik Kelas". Tabloid Nakita. 6 Oktober 2013.

0 komentar:

Posting Komentar